GAGAL FOKUS PART 1

Pernahkah kita mengerjakan suatu amalan yang walau pun sangat sederhana, namun itu rutin kita lakukan setiap hari? Contoh; membaca 5 ayat Al Qur'an setelah sholat fardhu, atau sekedar merutinkan 2 rakaat sunah sebelum sholat subuh. Karena sesungguhnya Allah amat mencitai amalan yang rutin dilakukan, walau pun jumlahnya hanyalah sedikit. Begitu baiknya kan, Allah? Kita bisa menyesuaikan amalan apa yang cocok untuk kita kerjakan, dan mampu kita kerjakan--walau hanya sedikit, namun kita konsisten di dalamnya. Ya, Allah sangat suka kekonsistenan umatnya, karena Allah tahu sungguh menjaga keistiqomahan adalah perkara yang tak sederhana. Apalagi di tengah badai fitnah dunia seperti saat ini.

Seorang guruku pernah berkata; kalau di zaman dahulu mengunci pintu dan diam di rumah sudah mampu menangkal fitnah dan membuat seorang selamat--namun sekarang? Fitnah dunia bisa menembus tembok atau atap yang kokoh, bahkan terbang tak terlihat bersama udara yang kita hirup lalu muncul di layar ponsel kita. 

Ada berbagai macam aurat di layar ponsel kita, ada berbagai macam gibah, berbagai macam fitnah, pun berbagai macam kesia-siaan yang lain. Kita bisa berpakaian tertutup dan mengunci pintu gerbang rumah kita, namun fisik kita bisa bertebaran di timeline social media dan dipelototi jutaan pasang mata. Tak berbatas, disave, dishare, dicapture, dikomen dan lain sebagainya. Terkadang kalau saya benar-benar maknai nasihat ini, saya kerap ngeri sendiri. Bagaimana teknologi, bila tidak digunakan karena Allah sungguh seperti mata pisau bagi diri sendiri. 

Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya setan menyusup dalam diri anak manusia melalui aliran darah.." (Muttafaqun 'alaih. HR. Bukhari no. 3281 dan Muslim no. 2175

Sebagian ulama mengartikan hadist di atas bahwa aliran darah tidak pernah berhenti dan mengalir dari seluruh penjuru atau dari semua sisi. Ini menunjukkan bahwa setan mengganggu manusia 24/7 every minute never stops. Can you imagine that? Itu kenapa Rasulullah selalu takut seseorang diganggu oleh seitan dengan menghasutnya lewat hati dan pikiran.

Mari coba kita buka surah Ar Araf ayat 17

ثُمَّ لَءَاتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَٰنِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَٰكِرِينَ
Kemudian aku (setan) akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).
Kalau kita perhatikan dengan seksama ayat yang berisi testimonial setan di atas, kita akan menyadari bahwa satu-satunya arah yang tak dilewati oleh setan dalam upayanya mengganggu manusia adalah arah atas. Abdullah bin Abbas mengatakan kalau arah atas ke bawah itu adalah jalur steril, karena arah tersebut adalah arah hubungan antara manusia dengan Allah.

Surah An-Nahl ayat 99-100
Sesungguhnya syeitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (syeitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.

Pernah nggak kepikiran kenapa kita mudah digoda sama setan atau iblis? Karena fokus kita selama ini ke makhluk, bukan ke Allah. Begitu ada masalah yang diinget langsung makhluk, harusnya Allah lah Dzat yang pertama kali kita inget. Contoh; pas lagi sakit, pertama yang kita inget pasti obat kalau nggak dokter. Jarang banget di antara kita yang kalau udah ngerasa badan nggak enak kita auto angkat tangan kita dan berdoa memohon kesembuhan sama Allah, lalu mohon petunjuk harus berobat ke mana--supaya Allah pertemukan dengan tenaga medis terbaik dan orang-orang yang bisa menolong kesembuhan kita. Atau janganlah sakit, coba siapa di rumah yang kalau lupa naro kunci auto ingetnya sama Allah dulu, sebelum nanya ke orang rumah yang lain? Ini terjadi karena Tauhid kita yang lemah. 

Harusnya segala hal, sesepele apa pun itu, Allah lah yang pertama kali kita ingat. Karena jalur yang nggak bisa dimasukin iblis dan bala tentaranya hanyalah jalur atas (ini testimoni Allah, coba baca lagi surah An Nahl di atas). Kita kerap salah fokus, sehingga saat ada masalah, makhluk lah orang yang kita tuju untuk curhat. Dan lagi-lagi bukan Allah.

Guruku memberi contoh lain; salah satu yang bikin kita galau saat jadi orang tua itu adalah karena hati kita condong ke anak kita, bukan ke Rob pemilik anak kita. Karenanya saat terjadi sesuatu kepada anak kita hati kita yang duluan hancur. Anak sakit, fokusnya ke anak bukan ke Allah dulu. Iya, ikhtiar itu harus. Namun apalah artinya ikhtiar tanpa tawakal. Kita hanya akan was-was, pergerakan kita banyak berada dalam hasutan syeitan, sehingga kita kerap jadi salah langkah dan bertemu orang-orang yang salah saat berikhtiar untuk mendapat solusi. Kita luput memprioritaskan Allah, Al Hadi, yang Maha Memberi Petunjuk. 

Siapa yang di antara kita, yang saat ada masalah Dzat yang pertama kali dia hubungi adalah Allah bukan manusia. Padahal apa sulitnya bagi Allah untuk melerai masalah kita, ketika kiamat saja bisa Allah ciptakan? Virus corona ini, ngga ada apa-apanya dibanding apa yang kelak pasti terjadi saat hari kiamat. Ketika bumi terbelah dan gunung saling bertubrukan. Karenanya sudah sepatutnya kita banyak bertaubat, dan mengubah sikap kita kepada Allah.

BERSAMBUNG

Comments

Popular Posts