KEBAHAGIAAN MANUSIA ITU SEMU



"yang namanya ujian, mau kita berlimpah atau kekurangan pasti akan selalu ada. Hanya wajahnya saja yang berbeda." (falafu) 

Saat suami memutuskan untuk resign kerja, berarti kami harus siap memulai semuanya kembali dari enol. Kenapa saya bilang dari enol ya karena kami tidak hanya pindah kota, namun kami akan pindah life style, pindah prioritas, pindah nominal gaji, pun pindah tujuan hidup. 

Saat masih tinggal di kebun (istilah mereka yang mencari nafkah di perusahaan kelapa sawit), kami terbiasa hidup serba 'disediakan'. Pembantu ada, listrik ada (dan bukan dari PLN) jadi kami ga perlu bayar listrik, rumah ada, isi rumah ada, kendaraan ada. Semua serba ada. Nah, ketika pada akhirnya kami memutuskan pergi dari semua kenyamanan itu, tentu saja berarti kami harus mau menyesuaikan diri dengan kehidupan yang baru.

Berat? Berat namun nikmat--setidaknya itu yang kami rasakan hingga detik ini. Karena kami bisa kembali pulang ke kota asal, dekat dengan keluarga, dan tentu saja alhamdulillah bisa dekat dengan majelis ilmu--walau pun, dulu saat resign, alasan dekat dengan majelis ilmu tidak pernah terlintas di kepala kami sebagai sesuatu yang penting. Kami hanya ingin, memberikan lingkungan terbaik bagi diri kami dan anak kami. Apa tinggal di kebun tidak baik? Yaa.. tergantung prioritas. Tinggal di mana saja, tentu akan ada sisi baik dan buruk. Tapi kami ingin Alesha bisa punya lingkungan yang lebih hangat, lebih dekat dengan fasilitas kehidupan--termasuk pendidikan juga kesehatan. Bayangkan, rumah kami di kebun dulu butuh waktu 6 jam perjalanan darat untuk sampai ke kota terdekat. Belum lagi, rumah kami ada di tengah hutan sawit, yang bahkan adzan saja sulit untuk terdengar. Belum lagi kalau bicara tentang tekanan pekerjaan yang harus suami saya hadapi, jujur saya tidak melihat kebahagiaan dari kedua bola matanya selama kami tinggal di kebun dulu. Dan dia telah menjalani kehidupan macam begini selama lebih dari 7 tahun. Dulu niatnya demi bisa kuliah dan membahagiakan keluarga. Sekarang saat telah memiliki keluarga kecil sendiri, tak ada salahnya dia menjalani hidup yang membuat mata hatinya tentram.

Lalu apakah ketika kembali tinggal di perkotaan hidup berjalan semulus aspal di daerah kami tinggal? Tentu saja tidak semudah itu Ferguso. Kami bahkan pernah merasakan benar-benar tidak punya uang--sampai berpikir untuk menjual cicin kawin kami. Pahit betul ya? Sedih sih, dan sempet nangis di depan toko emas lalu melipir nggak jadi jual cincin wkwk, namun alhamdulillah syukur kami belum juga putus hingga ke detik ini.

Mungkin banyak orang yang kenal dekat dengan kami merasa kasihan, terutama jelas orangtua, tapi bersyukurnya kami tidak pernah merasa hidup kami menyedihkan. Kami bahkan santai dan yowes lah saja, sambil terus berusaha. Ketika mungkin keluarga terdekat kami sendiri nggak pernah tahu seberapa busuk kondisi keuangan kami, karena kami saking santuynya.

Karena ya, hidup dan mati kami juga sudah 50.000 tahun lalu Allah putuskan. Mengapa perlu mengkhawatirkan rejeki yang bahkan sudah dijamin sama pemilik alam semesta ini? Bodoh ya kedengarannya? Alhamdulillah kami masih mau merasa bodoh dan nggak berdaya di hadapan Allah Subhanahuwata'ala, karena di hari yang lalu kami pernah merasa begitu yakin dengan planing hidup kami--hingga lalai mengingat bahwa hanya Allah lah Sang Pemilik Takdir. Mau merencanakan hari esok sebaik apa pun, kalau Allah berkehendak lain siapa bisa menolak?

Contoh saja, ayah saya dulu menikah dengan ibu saya yang usianya jauh lebih muda. Selisih usia mereka hampir 10 tahun, dengan harapan 'agar kelak di hari tua ada yang mengurus dengan tenaga yang lebih kuat'. Namun kenyataannya, ibu saya meninggal lebih dulu 8 tahun yang lalu. Dengan sebelumnya mengalami stroke selama 10 tahun. Allah justru membuat ayah saya harus mengurus ibu saya yang sakit selama lebih dari 10 tahun. Cita-cita ayah saya, hanyalah tinggal cita-cita. Namun apakah takdir tersebut lebih buruk dari cita-cita ayah saya dulu? Belum tentu. Karena buah dari kesabarannya merawat ibu saya selama beliau sakit juga pasti sangatlah besar. Bahkan sanggup membuat ayah saya yang pribadinya sangat keras, menjadi lebih penyabar. Tak semua hal di dunia ini mampu dinilai oleh mata dan pikiran manusia.  

"Maka janganlah harta dan anak-anak mereka membuatmu kagum. Sesungguhnya maksud Allah dengan itu adalah untuk menyiksa mereka dalam kehidupan dunia, dan kelak akan mati dalam keadaan kafir." (At-Taubah/55)
Sering kali lisan kita berucap 'Nanti pasti ada jalan, Allah pasti cukupkan kita', namun hati tak mampu 100 persen meyakininya. Jangankan 100 persen, mungkin 50 persennya aja nggak sampe. 1 tahun mengandalkan makan dari jualan, membuat saya kerap galau soal hari esok. Tapi segalau-galaunya saya, tentu saja nggak mungkin bisa mengalahkan beban pikiran suami yang notabene adalah kepala keluarga. Hidup saya dan Alesha adalah tanggung jawabnya. Begitu pun kebahagaiaan kami di dunia dan di akhirat. 

Taqwa memang sulit. Sesulit khusyuk dalam sholat yang kadang udah rakaat berapa aja kita kerap lupa. Kita merasa telah lepas dari kewajiban hanya karena telah sholat 5 waktu, tanpa perlu memikirkan telah seberapa bernilai sholat kita hari ini? Apakah wudhu kita sudah betul? Apakah bacaan kita sudah benar? Apakah sholat kita telah sempurna diterima oleh Allah Ta'ala? Kita merasa ya kita udah soleh lah, orang udah sholat kok, dibanding banyak oranglain yang nggak sholat. Kenapa kita begitu mudah meremehkan hubungan kita dengan Allah, dibanding hubungan kita dengan manusia? Ketika bahkan Allah-lah pemilik seluruh makhluk di alam semesta?

Kenapa hidup kadang terasa berat? Kenapa kita begitu kerap takut meninggalkan kenikmatan dunia, yang selama ini mungkin justru membuat kita dibenci dan jauh dari Allah? Ya karena nyatanya mungkin selama ini, agama kita saja yang tertulis islam di lembar KTP, tapi tak pernah menjalankan syariat Islam. Kita cuma tahu Allah itu Esa, tapi tidak pernah memahami betul makna dari kalimat tauhid. Jadi Allah hanyalah sesuatu yang kita cari ketika sempit, dan dilupakan ketika kita merasa bisa hidup dengan baik lewat kekuatan fisik & kelapangan harta yang kita punya.

Resign kerja, mengajarkan begitu banyak hal bagi saya. Termasuk salah satunya adalah belajar lebih percaya pada kekuasaan dan kebesaran Allah. Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang janji-Nya tak pernah ingkar, yang bahkan selalu bersedia menerima maaf dari kesalahan terbesar yang mampu dimiliki seorang manusia. Tanpa pernah mengungkit aib dan kekurangan kita.

Memilih untuk memulai segalanya dari enol, memberikan saya dan suami kesempatan untuk lebih mengenal agama kami sendiri. Mungkin kalau tak pernah berani melangkah, Allah tak pernah punya ruang untu memberi hidayah pada kami. Sehingga kami mulai memahami mana hal yang selama ini kami anggap bermanfaat namun nyatanya adalah dosa yang begitu besar. Seperti dosa yang didapat dari RIBA, begitu pun sikap juga sifat yang termasuk ke dalam syirik yang bisa membatalkan keislaman seseorang? What? Keislaman seseorang bisa batal tanpa orang tersebut keluar dari agama ini? Tentu saja bisa. Datanglah ke majelis ilmu dan pelajarilah. Sunggu tittle pendidikan tak ada artinya, bila tak pernah belajar agama. Begitu pun karier dan kesuksesan yang menjulang tinggi sampai ke langit, tak akan membawa manfaat bagi diri sendiri, bila tak diiringi dengan pengetahuan akan Rob dan Al-Qur'an. Kemana ketenangan hati akan dicari? Bila nyatanya Allah hanya meletakkan cahaya di dalam kitabnya yang tak pernah sempat dibaca?

Kalau ada seseorang yang merasa bahwa pendidikan, kedudukan, popularitas dan harta bisa membawa mereka jauh dari ujian hidup sungguhlah kasihan. Tak mungkin seseorang bisa lepas dari ujian dalam hidup ini (kecuali mereka telah benar-benar mati). Allah memberi ujian bagi mereka yang beriman mau pun tidak beriman. Bagi mereka yang sholat mau pun tidak sholat. Bagi mereka yang menutup auratnya dengan sempurna, atau mengumbarnya dengan penuh suka cita. Namun Allah hanya memberikan pertolongan bagi mereka yang yakin dan tunduk pada-Nya. 

Saya bahagia walau belum mampu beli rumah. Karena standar kebahagiaan saya bukan saat saya bisa berhasil punya rumah. Saya bahagia walau belum mampu beli mobil. Karena standar kebahagiaan saya bukan saat saya berhasil punya mobil. Saya bahagia walau saya seorang ibu rumah tangga yang tidak bekerja kantoran. Karena standar kebahagiaan saya bukan saat saya berhasil jadi wanita karier. Saya tidak pernah mau meletakkan standard kebahagiaan saya pada hal-hal duniawi yang menjadi standard mayoritas makhluk di dunia ini-karena selain itu melelahkan, itu pun tidak bermanfaat bagi akhirat saya. Saya tidak peduli saat orang mengasihani keluarga saya, silahkan, bebas, karena penilaian mereka tidak akan berpengaruh pada penilaian Dzat Yang Menciptakan saya dan seluruh isi dunia ini. Baik buruk hidup saya punya standard baru; yaitu apa yang Allah tuliskan di dalam Al-Qur'an dan apa yang telah Allah sampaikan lewat Rosulnya. Agama ini telah sempurna. Kalau pun ada yang belum mampu kita pahami, bukan agama ini yang salah-tapi cara berpikir kita yang keliru.

"Zuhud lah terhadap dunia, maka Allah akan mencintai Anda."

Kalau ada yang mampu membuat seorang hamba dicintai oleh Allah adalah perkara Zuhud. Zuhud adalah ketika kita mampu berpaling dari sesuatu karena meremehkan hal tersebut dan menganggap hal itu kecil dan merasa bahwa kita tidak membutuhkan hal tersebut. Karena kita memiliki hal lain yang kita yakini lebih baik juga bernilai darinya. Ibul Qoyim berkata bahwa Zuhud adalah membenci sesuatu yang tidak memiliki manfaat apa-apa bagi akhirat kita. Masha Allah ya pasti manusia yang mampu melakukannya. 

Saat hati memiliki tujuan syurga, maka segala di dunia ini tak ada lagi nilainya. Mau kita dipamerin segala macam kenikmatan dunia, nggak akan ada rasanya. Karena dunia seperti makna dari namanya adalah hal yang paling rendah atau hina. "Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. (At -Taubah/38).

*Ada yang punya tentang keberpindahanmu? Silahkan dishare di kolom komentar ya!*


Written by Farah Fatimah/Jan 2020
Sesungguhnya setiap nasihat ditujukan pertama kali kepada yang menulis tulisan ini













Comments

  1. Masha Allah. Gatau apakah orang lain akan merasakan 'nyes' nya baca ini tanpa bener bener merasakan. Ceritaku persis kaya ka Fa. Tahun lalu secara 4 bulan berturut turut aku dapet hal yg ga aku inginin dan belum pernah aku rasain sama sekali sebelumnya. Rasanya buruk bener bener buruk, manusia ga perlu tau apa yg terjadi karna Allah aja sebaik baiknya menutup aib kita.
    Dibulan keempat setelah keburukan itu datang (yg karna saya sendiri yg menjemputnya) kesedihan, kegelisahan, kehampaan, yg bener bener susah diucap tp nyata rasanya semua menjadi satu.
    Denying kalo jawabannya hanya satu, kembali ke Allah.
    Lalu Allah atur jalannya. Dimulai dari buka youtube langsung muncul ceramah yg related dgn keadaan waktu itu, buka ig juga menemukan hal yg sama, lalu di ig juga akhirnya aku daftarin diri untuk datang ke kajian ustadzah Oki Setyana Dewi. Ga expect apa apa dan gada feel apa apa cuma pingin dateng.

    Di hari H untuk pertama kalinya aku keluar pake jilbab. Rasa ga pede? Ohya pasti, takut kepanasan? Iya banget tp dilain sisi pengen challange diri sendiri.. bisa ga nih gue keluar rumah pake jilbab dan sampe nanti masuk rumah tetep masih pake. Oke bismillah.
    Karena datang tanpa tujuan tp ternyata itu memang udah jalannya Allah untuk aku, tema kajian yg pertama kali aku datengin selama dewasa ini temanya "hijrah kembali kepada-Nya" wawww sungguh related sekali bukan?? Masya Allah lagi lagi itu memang skenario-Nya Allah.

    Diawali dgn membaca Ar-Rahman bersama semua jamaah, waw untuk pertama kalinya baca al-quran nangis bombay sesegukan ingusan semuaaanya. Lagi lagi setan ini akan terus hidup berdampingan dgn manusia, masih aja mikir... gue ngapain disini sampe nangis segala.. ya Allah...

    Akhirnya ustadzah Oki bilang dalam tausiahnya.. banyak cara Allah kasih kita hidayah salah satunya dengan kesedihan, mau berhijrah tp ga yakin karna didasari dengan kecewanya terhadap manusia bukan kesadaran karna Allah itu ga apa apa karna cara Allah ga selalu sama untuk memberikan hidayah setiap orang..
    Baru deh, oh gapapa ya berarti kalo make jilbab karna kesedihan yg kita rasain.
    Pulang dr sana mata bengkak tapi hati lega, ga sepenuhnya lega karna aku blm yakin dgn menggunakan jilbab pd saat itu.

    Dijalan pulang dzikir terus bener bener minta diyakinin hati ini, bener bener minta jawaban atas semua kesedihan. Pelan pelan akhirnya Allah jawab, hari berikutnya bismillah aku keluar pake jilbab. Dateng ke kajian sana sini, ikut pengajian juga, masya Allah hati yg kemarin rasanya ada batu gede lama lama lega plong damai adem.

    Dan saat ini aku lagi nganggur udah 8 bulan dan hanya 3x interview selama itu. Aku habis kontrak bulan mei, agustus aku mulai berjilbab.
    Selain berdoa biar cepet dapet kerja, ada doa lain yg aku ucapin, kembali karna ilmu yg aku dapet dari kajian yg aku datengin. Aku berdoa, ya Allah jika kesempitan dan kesulitan ini bisa mendapatkan ridha-Mu bisa menghapus semua dosaku, ikhlas kan aku untuk menjalani ini, lapangkan aku dalam kesempitan ini, sesungguhnya Engkau Maha Penolong, Maha Pengampun dan Maha Mencukupi. Hasbunallah Wanikmal Wakil Nikmal Maula Wanikman Nasir.

    ReplyDelete
  2. Yaa Allah lebih banyak komennya drpd kontennya wkwk, tp berkepindahan itu memang artinya berhijrah kan. Semoga bisa saling mendoakan ka Fa.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts