Skip to main content

IT'S NOT THAT BAD


"When I lost my mom, I thougt I would lose my life. But, well, I don’tI am still here, willing to live my life and thank you, me." - Fa

Kamu tahu, ada begitu banyak hal buruk yang kamu bayangkan, padahal saat dijalani, ternyata tidaklah seburuk itu. Dan ada juga begitu banyak hal indah yang kamu bayangkan, padahal saat dijalani, ternyata tidaklah seindah itu.

Manusia kebayakan hidup dalam angan-angannya—tidak terkecuali saya. Banyak hal yang membuat saya khawatir dan takut, banyak juga hal yang membuat saya iri juga pesimis pada diri saya sendiri. Dan itu semua bermula dari angan-angan saya tentang hari esok.

Bagaimana nanti kalau.. bagaimana nanti jika.. bagaimana nanti bila.. dan yang lain sebagainya.

Sebutlah saja, mungkin titik terendah dalam hidup saya datang saat ibu saya meninggal. Saat itu saya tahu beliau sakit parah, saya tahu waktunya tidak akan lama lagi, saya bahkan sempat mengatakan padanya sambil berbisik; 'Tak apa Ma, Farah akan baik-baik saja. Tidak perlu khawatir. Suatu hari nanti, Farah akan bertemu pria yang menyayangi Farah dengan baik—walau pasti tidak sebaik sayangnya Mama selama ini.'

Karena apalagi yang mampu seorang ibu khawatirkan dari anak perempuan satu-satunya ini, kalau bukan soal pasangan hidup? Saya tahu, dia pasti begitu sedih, karena bahkan dia tidak berkesempatan untuk melihat seperti apa rupa pasangan saya nanti. Karena saya adalah anak terakhirnya yang belum berkeluarga. 

Namun tetap saja, saat hari itu benar-benar datang. Saat saya akhirnya menyadari bahwa tidak akan ada lagi beliau selama-lamanya, saya hancur berkeping-keping. Satu tahun saya bahkan tidak ingin melakukan apa-apa. Saya kehilangan rasa ingin tahu akan hari esok. What about tomorrow? Saya tidak peduli. Walau pun setengah mati saya berusaha terlihat baik-baik saja, saya tetap tidak tertolong. Setiap malam, saya begitu takut memejamkan mata, karena saya begitu takut akan kematian. Karena akhirnya saya tahu, bahwa kematian adalah tempat yang begitu sepi dan sendirian, Dan Ibu saya berada di sana. 

Tapi hari-hari itu sudah berada di belakang saya. Saya yang sekarang, sudah bersahabat dengan ‘kebaik-baik sajaan’. Bahkan sudah lebih dari 2 tahun saya bekerja lagi dan mencoba menikmati rejeki yang menjadi bagian saya. 

Siapa pun, pasti punya waktunya untuk meninggalkanmu. Hal apa pun, pasti punya waktunya untuk berlalu. Tapi yakinlah, setiap kehilangan yang terjadi, akan membuatmu lebih menghargai mereka yang masih setia bertahan di sisimu sampai saat ini.

Kesedihan dan kekecewaan seperti apa pun pasti akan punya waktunya untuk selesai, asal kamu tetap bertahan menjalani hidupmu dan mensyukuri apa yang masih tertinggal di dalamnya.

Begitu pun penantian akan hal-hal yang belum bisa kamu miliki sampai saat ini. Mimpi-mimpi yang kerap membuat hatimu sesak, karena belum juga berhasil kamu wujudkan. Well, I have been there so many times.

Membayangkan hal-hal indah—yang mungkin bila saja bisa benar terjadi, hidup saya akan jauh lebih baik. Padahal ya belum tentu. Siapa yang bisa menjamin memang?

"Tuhan Maha Bijaksana. Memberi segala yang kamu butuhkan, bukan yang kamu inginkan. Mengantar dan mengambil segala, tepat pada waktunya." - Fa

Saat itulah, saya mencoba memahami makan ‘ikhlas’, menerima bahwa segala yang pernah terjadi dan belum sempat terjadi dalam hidup saya adalah bagian terbaik  yang bisa saya miliki saat ini. Selama saya menjalani hidup dengan memilih jadi manusia terbaik yang bisa saya upayakan. Selama saya terus berusaha, berdoa, dan berharap dengan bijaksana—Tuhan tidak akan pernah menutup matanya. Dia selalu mendengar harapan saya, bahkan mungkin yang tidak mampu terucap sekali pun--karena terlalu besarnya harapan itu. 

Karena akhirnya saya menyadari, bahwa ada begitu banyak doa dan harapan yang bahkan saya lupa pernah menginginkannya, ternyata mampu benar terjadi. Mungkin memang bukan terjadi di waktu yang saya inginkan, tapi jelas terjadi di waktu yang paling tepat. Karena mungkin saja, bila saya memiliki atau menjalani harapan itu di waktu yang lalu, hidup saya tidaklah sebaik ini.

Percayalah, bahwa Dia adalah Dzat Yang Maha Bijaksana. Dia mengetahui hal-hal yang masih jadi rahasia. Dia menjagamu, sebaik kamu menjaga dirimu dalam doa-doa dan perbuatan baik yang kamu lakukan selama ini. Percayalah.
Written by Farah Fatimah / 2015 

Comments

Popular posts from this blog

KEBAHAGIAAN MANUSIA ITU SEMU

"yang namanya ujian, mau kita berlimpah atau kekurangan pasti akan selalu ada. Hanya wajahnya saja yang berbeda." (falafu)
Saat suami memutuskan untuk resign kerja, berarti kami harus siap memulai semuanya kembali dari enol. Kenapa saya bilang dari enol ya karena kami tidak hanya pindah kota, namun kami akan pindah life style, pindah prioritas, pindah nominal gaji, pun pindah tujuan hidup. 
Saat masih tinggal di kebun (istilah mereka yang mencari nafkah di perusahaan kelapa sawit), kami terbiasa hidup serba 'disediakan'. Pembantu ada, listrik ada (dan bukan dari PLN) jadi kami ga perlu bayar listrik, rumah ada, isi rumah ada, kendaraan ada. Semua serba ada. Nah, ketika pada akhirnya kami memutuskan pergi dari semua kenyamanan itu, tentu saja berarti kami harus mau menyesuaikan diri dengan kehidupan yang baru.
Berat? Berat namun nikmat--setidaknya itu yang kami rasakan hingga detik ini. Karena kami bisa kembali pulang ke kota asal, dekat dengan keluarga, dan tentu saja a…

GAGAL FOKUS PART 1

Pernahkah kita mengerjakan suatu amalan yang walau pun sangat sederhana, namun itu rutin kita lakukan setiap hari? Contoh; membaca 5 ayat Al Qur'an setelah sholat fardhu, atau sekedar merutinkan 2 rakaat sunah sebelum sholat subuh. Karena sesungguhnya Allah amat mencitai amalan yang rutin dilakukan, walau pun jumlahnya hanyalah sedikit. Begitu baiknya kan, Allah? Kita bisa menyesuaikan amalan apa yang cocok untuk kita kerjakan, dan mampu kita kerjakan--walau hanya sedikit, namun kita konsisten di dalamnya. Ya, Allah sangat suka kekonsistenan umatnya, karena Allah tahu sungguh menjaga keistiqomahan adalah perkara yang tak sederhana. Apalagi di tengah badai fitnah dunia seperti saat ini.
Seorang guruku pernah berkata; kalau di zaman dahulu mengunci pintu dan diam di rumah sudah mampu menangkal fitnah dan membuat seorang selamat--namun sekarang? Fitnah dunia bisa menembus tembok atau atap yang kokoh, bahkan terbang tak terlihat bersama udara yang kita hirup lalu muncul di layar ponsel…